[Curhatku] Di Saat Terapuhku

Kadang aku berpikir, tepatkah keputusan yang telah kuambil

Kadang aku berpikir, legakah aku dengan keputusanku itu

Kadang aku berpikir, menyesalkah aku dengan keputusanku itu

Dan pada akhirnya…

Aku berpikir, tegarkah aku dengan keputusanku itu

 

Mungkin jawaban dari semua pertanyaan itu adalah “YA”

Mungkin aku tepat mengambil keputusan itu

Mungkin aku lega dengan adanya keputusan itu

Mungkin aku memang menyesal dengan keputusan itu

Dan mungkin aku tegar pada saat mengambil keputusan itu

 

Tapi tunggu dulu…

Tegar?

Benarkah aku tegar? Benarkah aku setegar itu?

Atau mungkin aku hanya berpura-pura tegar?

Ternyata, aku tidak setegar yang aku kira

Aku tidak setegar yang terlihat

Aku tidak setegar itu

Rapuh…

Aku benar-benar rapuh

Mungkin itu saat terapuh bagiku

 

Terkadang timbul pikiran, masih bisakah aku tersenyum seperti biasanya

Ya, ternyata aku masih bisa tersenyum

Tapi, itu hanya di luar

Di dalam, aku menangis

 

Luka itu terbuka lagi

Luka itu tergores lagi

Luka itu makin terasa perih dan sakit

Semua kenangan itu semakin jelas terbayang-bayang

Semua kenangan itu makin tak kuasa kulupakan

 

Kadang aku merasa marah atas keadaan ini

Kadang aku ingin protes atas keadaan ini

Tapi, aku harus marah dan protes pada siapa?

Aku harus marah dan protes terhadap apa?

Pada keadaan ini?

Ataukah pada keputusanku?

Entahlah…

 

Kadang aku berpikir, andai saja aku tidak harus mengambil keputusan itu

Kadang aku berpikir, andai saja tak ada jarak antara aku dan dia

Andai saja keputusan itu tak pernah kuambil

Andai saja keputusan itu tak pernah kuucapkan

Andai saja tak ada jarak itu

Andai saja…

Andai saja…

Begitu banyak “Andai saja” yang ada di dalam pikiranku

Begitu banyak “Andai saja” yang kuucapkan

Tapi tetap tak akan bisa mengubah keadaan

 

“Aku harus tegar!”

“Aku harus lebih dewasa lagi!”

Itulah yang harus kulakukan saat ini

Tak akan kusesali keputusan yang telah kuambil

Tak akan kutangisi keputusan yang telah kuambil itu

Tak akan kutangisi lagi keadaan yang telah terjadi

 

Tapi, ada satu hal yang tak akan berubah

Kau dan semua tentangmu

Akan selalu menjadi bagian dalam hidupku

Akan selalu menjadi bagian dari masa lalu

Yang akan kusimpan di suatu tempat rahasia dan istimewa

Yang tak akan kulupa…

 

Tulisan ini kubuat sudah lama sekali, tapi mungkin tulisan ini bisa juga menggambarkan perasaanku saat ini…

Diterbitkan di:  on April 30, 2008 at 1:36 pm Tanggapan (2)
Tags:

[Curhatku] I Was Such A Fool

 I was such a fool…

 

Itu mungkin sekarang yang ada dalam pikiranku.

Jika sebelum-sebelumnya aku merasa bahwa duniaku runtuh (lebay banget ga siy… – ye). Aku merasakan bahwa ini semua hanya mimpi buruk…

Tapi, Alhamdulillah… berkat teman-temanku, aku bisa melalui ini semua. Teman-temanku memberikan semangat padaku, memberikan dukungan padaku… Thank you so much gals… You’re the best…

 

Mungkin sebelum ini, aku begitu bodoh dalam mengambil sikap. Begitu terburu-buru dalam mengambil tindakan. Begitu emosi pada saat menghadapi masalah itu. Begitu memainkan hatiku. Sehingga, akal sehatku tidak dapat ambil peran… (Kasihan akal sehatku yach…? -ye)

 

Pada saat itu, aku memang merasa tenggelam. aku menjadi lebih sentimentil. Sebentar-sebentar menangis. Cengeng sekali aku pada saat itu.

I was such a fool at that moment

 

Mengapa aku merasa begitu tenggelam pada saat itu? Entahlah… mungkin ego-ku sedang berperan besar pada saat itu. Ego yang mengatakan bahwa aku tidak bisa kalah. Aku tidak bisa diperlakukan seperti itu. Atau mungkin gengsi-ku juga ikut berperan serta pada saat itu, ditambah lagi ada emosi yang ikut bermain di sana.

Sehingga… Itu semua menutup logika dan akal sehatku. Semua sikapku itu menyebabkan orang-orang di sekitarku menjadi bingung, marah dan mangkel. Beberapa dari mereka mendukungku, tapi ada juga yang menyalahkan aku.

Terimakasih… Terimakasih sekali kepada kalian, baik yang mendukungku maupun yang menyalahkan aku. Karena itu semua membuatku sadar. Sadar yang sesadar-sadarnya, bahwa ini tidak seperti yang aku bayangkan. Bahwa duniaku tidak akan berakhir hanya karena masalah kecil seperti ini. Bahwa hidupku akan tetap terus berjalan, dengan atau tanpa adanya kejadian ini.

 

Setelah melalui pemikiran yang lumayan panjang… Akhirnya aku memutuskan untuk menghentikan ini semua. Aku memutuskan untuk berhenti melakukan hal yang sia-sia ini. Berhenti melakukan hal yang bodoh ini. Aku juga sudah lelah memikirkan hal ini.

Aku merasa bahwa aku masih bisa mendapatkan yang lebih baik dari yang sudah kudapatkan sekarang ini.

 

Aku anggap ini sebagai pelajaran yang diberikan TUHAN kepadaku. Sebuah hadiah yang kudapat dari TUHAN. Dengan hadiah ini, aku bisa mendapatkan pelajaran yang lebih lagi.

Mungkin juga TUHAN sedang memberikan peringatan kepadaku, bahwa apa yang telah aku lakukan itu tidak baik. Mungkin ini yang terbaik bagiku, yang diberikan oleh TUHAN.

 

Sekarang, setelah aku bisa mengambil keputusan ini, lega rasanya. Aku merasa tidak ada beban lagi. Aku bisa melangkah dengan lebih ringan, tanpa ada bayang-bayang tentang apa yang telah terjadi.

 

Ikhlas…? Mungkin aku sudah ikhlas dengan apa yang telah terjadi, tapi mungkin juga aku belum ikhlas, atau justru aku sedang dalam taraf mengikhlaskan semua itu.

Sabar…? Mungkin sekarang ini aku sudah lebih sabar. Lebih sabar untuk menghadapi hal-hal yang telah terjadi.

Tapi yang jelas, sekarang aku sudah lebih bisa menerima semuanya.

 

Terimakasih TUHAN karena kau telah memberikan ini semua padaku. Terimakasih teman-temanku, karena mau mendengarkan keluh kesahku. Terimakasih kepada orang-orang di sekitarku. Dan juga, terimakasih kepada dirimu yang telah memberikan semua pelajaran ini kepadaku. Pelajaran yang akan sangat berarti untukku. Thank you so much…

 

Sekarang aku sudah bisa melangkah lagi…

 

That’s just a silly thing… So, i’m gonna get over it.

Life goes on… With or without you…

Diterbitkan di:  on April 29, 2008 at 4:44 pm Tinggalkan sebuah Komentar
Tags: ,

[Curhatku] AKU, KAU dan DIA

 AKU, KAU dan DIA

 

*************************

 

Malam itu, KAU datang menemuiku untuk mengatakan sesuatu. Sesuatu yang selama ini sudah kutunggu-tunggu… Sesuatu yang sudah lama ingin kudengar darimu.

Akhirnya, KAU mengatakan itu juga. Suatu kepastian atau mungkin jawaban dari pertanyaanku selama ini.

Tapi entah mengapa, AKU merasa tidak senang dengan jawaban yang KAU berikan itu. Bukan… Bukannya AKU marah, tapi, mengapa justru jawaban seperti itu yang KAU berikan padaku. Mengapa??

Masih teringat jelas dalam memoriku, waktu-waktu yang kita lalui bersama, walaupun tanpa kejelasan seperti yang AKU harapkan. Tapi, AKU sangat menikmatinya… Jujur. Bahkan, terkadang aku mengesampingkan hal-hal yang selalu ada di dalam pikiranku…

 

Apa AKU bagimu?”

Siapa AKU bagimu?”

dan…

Apa yang KAU rasakan terhadap AKU?”

 

Seringkali AKU mengabaikan pertanyaan-pertanyaan itu, demi menikmati waktu yang KAU tawarkan dan berikan padaku. Demi menikmati perhatian-perhatian yang KAU berikan padaku.

 

*****

 

Malam sebelumnya, KAU benar-benar memperlakukanku dengan sangat manis, sangat baik. Saat itu, KAU sangat hangat. Perhatian yang KAU berikan padaku juga (sedikit) berbeda dari biasanya… And I really really really like it. Seharian itu, AKU merasa…

 

Oke lah… Tidak apa-apa jika memang harus begini jalannya. AKU oke-oke saja…”

 

*****

 

Tapi, ternyata… keesokan harinya… Bagaikan disambar petir begitu aku mendengar apa yang KAU katakan. Kepastian yang AKU tunggu, akhirnya datang juga.

 

Tapi, tidak seperti yang AKU harapkan. KAU mengatakan bahwa, hubungan antara AKU dan KAU tidak bisa dilanjutkan lebih dari ini, karena ada sebab lain. Dan sebab itu adalah DIA. Ada suatu hal yang mengikat antara KAU dan DIA, yang KAU bilang itu sebagai “janji”. Sebuah “janji” yang sampai saat ini belum bisa AKU mengerti.

 

Waktu itu, KAU sendiri mengatakan bahwa hatimu itu untuk AKU. Tapi, KAU tidak bisa memilihku karena “janji” itu, “janji” yang KAU berikan pada DIA. Dan DIA selalu mengingatkanmu akan “janji”-mu itu.

 

Entah mengapa, AKU merasa tidak rela… tidak rela jika KAU memilih DIA. Karena, KAU sendiri mengatakan bahwa KAU suka AKU, dan KAU sudah tidak ada rasa pada DIA.

 

Bagaimana mungkin KAU bisa menepati ‘janji’-mu itu?”, tanyaku padamu.

 

Jujur saja, keegoisanku langsung muncul begitu KAU mengatakan alasannya. AKU bertanya padamu,

 

Apa benar-benar sudah tidak mungkin bagi AKU dan KAU bersama?”

 

Kemungkinan itu selalu ada… Tapi sepertinya kecil”, jawabmu

 

Oke… aku ambil kemungkinan kecil itu”, sahutku tegas. Tapi, KAU menjawab,

 

Jangan, aku tidak ingin kau terluka lebih dalam lagi. Aku tidak ingin menyakitimu lebih dari ini.”

 

Apapun yang terjadi, seberapa pun besarnya rasa sukaku padamu, tetap akan dikalahkan oleh ‘janji’ itu…”

 

Tuhan… pada saat AKU mengatakan bahwa AKU berani mengambil kemungkinan kecil itu, AKU berharap KAU juga berani mengambilnya. Tapi ternyata, KAU tidak…

Sedikit kecewa memang, tapi apa mau dikata lagi. Sepertinya KAU tidak mau berjuang untuk AKU. KAU tidak memperjuangkan AKU, agar AKU dan KAU bisa bersama.

KAU hanya meminta maaf jika ternyata keputusan itu memberi kesan KAU mempermainkan AKU. Tidak… AKU tidak bisa menerima maaf darimu. Bukan karena AKU tidak mau memaafkanmu, tapi lebih pada AKU belum bisa menyerah secepat itu.

 

AKU kalah sebelum bertanding…

 

AKU kalah hanya oleh sebuah “janji” yang aneh menurutku… Mungkin itu hanya keegoisanku saja, tapi, AKU merasa bahwa AKU tidak bisa menyerah hanya sampai di sini. Itulah yang kukatakan padamu. KAU hanya menyarankan jangan, tidak sebaiknya AKU mengambil keputusan itu, karena KAU tidak ingin AKU menjadi lebih sakit lagi nantinya.

 

Tapi, apakah salah jika AKU masih memiliki harapan itu? Apakah salah jika AKU masih menyimpan harapan itu? Harapan bahwa suatu saat nanti kita, KAU dan AKU, bisa bersama… tanpa ada bayang-bayang DIA di dirimu dan tanpa adanya “janji” itu…

 

*****

 

Entah sampai kapan AKU bisa mempertahankan keegoisanku ini… Atau, entah sampai kapan AKU akan bertahan dengan perasaan ini. AKU tidak tahu, AKU belum tahu jawabnya…

 

KAU… yang sampai saat ini masih ada di dalam hatiku dan telah mendapatkan tempat khusus di hatiku…

 

Apakah masih ada AKU dalam hatimu…?

Diterbitkan di:  on April 28, 2008 at 10:49 am Tanggapan (2)
Tags: , ,