Seharian itu, seulas senyum tersungging di bibirku. Sepanjang hari, senyum itu tak pernah lepas dari bibirku. Hatiku berdebar-debar. Dag… dig… dug… dag… dig… dug…
Kau mengatakan kau akan mampir ke rumah, meski tak lama. “Aku nanti ke rumahmu, tapi mungkin tak bisa lama-lama.”
Aku pun mengatakan, “Iya… Tidak apa-apa.”.
Bagiku, tak masalah meski kau hanya mampir sebentar, barang beberapa menit. Meski hanya sekejap, tak mengapa. Yang penting aku bisa bertemu denganmu. Kerinduan yang sudah lama kurasakan dan kupendam ini, dapat terobati, meski sedikit.
Kusiapkan semua untuk menyambut kedatanganmu. Kubuatkan makanan kesukaanmu. Tak lupa, secangkir teh manis hangat.
Selesai menyiapkan itu semua, aku pun mempercantik diriku, agar aku tak nampak memalukan di hadapanmu. Kusemprotkan parfum yang hanya kupakai ketika aku bersamamu.
Selesai shalat maghrib, semuanya telah siap, baik makanan dan minuman untukmu maupun diriku.
Kutunggu dirimu di teras rumah. 5 menit… 10 menit… 20 menit… 30 menit…
Kau tak kunjung datang. Tapi, aku tetap menunggumu di teras rumahku.
Tak berapa lama, handphone-ku berbunyi. Sebuah pesan masuk, darimu. Kau mengatakan kau tak bisa mampir ke rumahku karena kau ada keperluan mendadak.
Lemas seluruh badanku. Tak terasa, air mata menetes di pipi.
Kerinduan yang selama ini kupendam, haruskah kupendam lagi?
Dan aku pun… Masih menunggumu di teras rumahku…
