[Ceritaku] Kebaikan ver 2.0

Pagi ini, sebelum berangkat ke kantor, aku berencana mampir ke pasar terlebih dulu untuk membeli daun pandan dan dawet, yang akan digunakan sebagai takjil buka puasa sore ini.

Tepat pukul 07.30 aku berangkat ke pasar. Sesampai di pasar, aku langsung berkeliling mencari penjual dawet dan daun pandan. Lalu, sampailah aku di satu kios, aku bertanya pada penjualnya,

“Pak… wonten pandan?” – Pak, ada daun pandan?

Bapak itu menjawab, “Mbonten gadhah Mbak, ngajeng niku.”

Tidak punya Mbak, depan situ ada

Lalu aku menuju suatu kios yang ditunjuk oleh Bapak itu tadi.

“Bu, wonten pandan?”, tanyaku. – Bu, ada daun pandan?

“Wonten Mbak, mundhut pinten?”, jawab ibu itu. – Ada Mbak, beli berapa?

“Pintenan Bu?”, tanyaku lagi. – Berapaan Bu?

“500an”, jawab ibu itu, sambil menunjukkan seikat daun pandan.

“Setunggal pinten?”, tanyaku. – Satu berapa?

“Nggih seiket niki. Kagem ndamel napa to Mbak?”, tanya ibu itu lagi.

Ya satu ikat ini. Untuk dibuat apa to Mbak?

“Kagem ndamel dawet Bu.”, jelasku. – Untuk membuat dawet Bu

Lalu, tak lama kemudian, ibu itu memberikanku 2 lembar daun pandan.

Kutanya, “Pinten menika Bu?” – Berapa ini Bu?

And… you know what???

Ibu itu menjawab, “Mpun, mboten sah Mbak…” – Sudah, tidak usah Mbak

Aku melongo… “Wow, ibu ini serius?”, pikirku.

“Lho, Bu…?”, tanyaku heran.

“Sampun… Mboten napa-napa.”, jawab ibu itu sambil tersenyum.

Sudah, tidak apa-apa

“Matur suwun nggih Bu…”, jawabku dengan penuh rasa terima kasih. – Terima kasih banget Bu

Dan aku berlalu dari kios ibu itu.

Ya ALLAH… Subhanallah… Terima kasih Ya ALLAH…

Pagi-pagi aku sudah mendapatkan kebaikan. Pagi-pagi aku sudah mendapatkan berkah dan anugerah dari-MU.

Ternyata, masih ada orang (baca: penjual – ye) yang baik. Ibu itu tidak memikirkan berapa kerugian yang akan ibu itu terima dengan memberikanku beberapa lembar daun pandan yang dijualnya.

Mungkin aku tidak bisa membalas apa-apa atas kebaikan ibu itu. Semoga ibu itu mendapatkan balasan dari ALLAH SWT. :)

Amin…

PS: So Guys… Es Dawet yang akan jadi takjil buka puasa ntar sore… sepertinya akan terasa saaaaa… ngat manis. ;)

Diterbitkan di:  on September 9, 2009 at 8:46 am Komentar (2)
Tags:

[Ceritaku] Kebaikan…

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kebaikan memiliki arti seperti berikut ini:

ke·ba·ik·an n 1 sifat baik; perbuatan baik: terima kasih atas – dan kemurahan hati Anda; 2 kegunaan: peristiwa itu akhirnya mempunyai – pula bagi jalan hidupnya; 3 sifat manusia yg dianggap baik menurut sistem norma dan pandangan umum yg berlaku;

Mengapa aku membahas mengenai kebaikan?

Ehm… begini asal muasalnya. Dulu sekali, jaman aku masih duduk di bangku kuliah (jadi mahasiswa – ye), dan pada saat itu, ketika pergi ke kampus (berangkat – pulang) aku masih berjalan kaki. Iya… berjalan kaki sejauh sekitar 2 km satu kali perjalanan – kalo satu kali perjalanan aja 2 km, berarti PP total 4 km donk… –. :D

Dulu pada saat masih kuliah, aku kos di daerah Perumahan Dosen ITS (PERUMDOS ITS), dan dulu kampusku (Teknik Informatika ITS) masih berada di dekat bunderan ITS dan dekat dengan Graha ITS. Setiap kali ada kuliah atau ada acara kampus, aku selalu berjalan kaki.

Suatu ketika, saat aku sedang dalam perjalanan pulang kuliah, berjalan kaki menuju kos-kosanku – bahkan sebenarnya sudah dekat dengan kos –, tiba-tiba ada seorang perempuan berjilbab yang mengendarai sepeda motor menghampiri aku.

Awalnya aku mengira dia itu salah seorang temanku – tapi ternyata bukan –, atau paling tidak dia itu salah seorang seniorku di kampus – dan ternyata juga bukan –.

Awalnya pun aku sempat mengira dia sedang menanyakan sesuatu, entah alamat atau sesuatu – dan ternyata dugaanku pun salah –.

Dia (perempuan berjilbab itu – ye) menghentikan sepeda motornya tepat di sampingku. Kemudian dia mendekatiku dan mengatakan,

Ayo… bareng…” – dan aku melongo mendengarnya

Maaf… apa Mbak?”, tanyaku lebih jelas.

Iya… Ayo bareng, tak anterin.”, jelasnya.

Saat itu aku baru ngeh dengan perkataannya. Ternyata dia menawariku untuk bareng dengannya, diantar sampai ke kosku. Tapi, aku merasa sungkan karena kenal-aja-enggak, aku menolak tawarannya dengan halus.

Waduh… ndak usah Mbak… Makasih banyak. Sudah dekat koq kosnya…”, kataku saat itu.

Lho… Ndak apa-apa, ayo…”, tegasnya.

Dan sekali lagi aku menolak halus,

Iya Mbak… ndak apa-apa koq. Sudah dekat banget kosnya…

Akhirnya dia mengatakan,

Oo… ya udah… bener ta ndak apa-apa…?

Iya, Mbak… Makasih banyak ya…”, sahutku.

Ya sudah… duluan ya kalo gitu… Assalamu’alaikum…”, katanya.

Setelah itu, aku benar-benar bingung. Bingung kenapa?

  1. Aku benar-benar tidak kenal dengan mbak itu.
  2. Baik sekali Mbak itu menawariku untuk pulang mengantarku, padahal kami tidak saling kenal.
  3. Tiba-tiba saja aku berpikir, “Bodohnya aku… ada orang nawarin nganter pulang koq ditolak..” – hehehehehe, kalo ini mah, cuman egoku ajah… ga usah dianggep serius gitu… guyon… guyon… :D

Setelah itu… aku baru sadar… Subhanallah… ternyata masih ada yach orang baik yang mau menolong orang yang bahkan dia sendiri tidak kenal. :)

Dan… sampai sekarang pun… aku masih mengingat dengan jelas kejadian itu… dan masih bertanya-tanya, “Siapa yach mbak berjilbab yang sangat baik hati itu?

PS: Nah, apakah kalian pernah mengalami hal “kebaikan” seperti itu? Atau mungkin kalian sendiri adalah “pelaku kebaikan” itu sendiri? :)

Diterbitkan di:  on September 8, 2009 at 10:09 am Komentar (2)
Tags:

[Ceritaku] Kompromi… Sabar…?

Beberapa hari yang lalu, aku membaca blog seorang teman. Di situ dia menuliskan tentang perbedaan usia antara laki-laki dan perempuan, di sini alamat blog-nya:

http://coretanaprillia.wordpress.com/2009/08/05/menikah-dengan-laki-laki-yang-lebih-muda/

Ehm… Yang ingin aku bahas di sini bukanlah mengenai perbedaan usia antara laki-laki dan perempuan. Tetapi lebih mengenai hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Mengutip tulisan temanku itu, yang isinya:

Karena perempuan adalah makhluk yang paling mudah berkompromi. Berkali-kali disakiti laki-laki, perempuan itu akan selalu memberi ruang besar untuk memaafkan…”

Membacanya, membuatku berpikir, “Iya… benar juga…”.

Seorang perempuan, terlebih lagi jika dia sudah menyukai seorang laki-laki (dalam hal ini jatuh cinta/cinta – Ye), akan menjadi seorang yang sangat mudah berkompromi dengan laki-laki yang mereka sayangi (baca: cintai – Ye).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kompromi adalah:

kom·pro·mi n persetujuan dng jalan damai atau saling mengurangi tuntutan (tt persengketaan dsb):kedua kelompok yg berselisih itu diusahakan berdamai dng jalan –;

ber·kom·pro·mi v bersetuju dng jalan damai (saling mengurangi tuntutan); melakukan kompromi

*****

Seorang perempuan akan (mencoba) memahami bagaimana laki-laki yang mereka sayangi. Mereka akan berusaha (sekuat tenaga) untuk mengerti, memahami dan pada akhirnya (mencoba) berkompromi dengan laki-laki. Entah itu sikap-sikap mereka (baca: laki-laki – Ye), sifat-sifat mereka, bahkan… kebiasaan-kebiasaan mereka yang mungkin saja kita (pada awalnya) kurang suka.

Misalnya, kebiasaan mereka yang suka merokok (baca: perokok – Ye)… kita yang pada awalnya kurang suka dengan seorang perokok, kita menjadi bisa menerima itu.

(FYI… itu terjadi padaku. Jika aku berada di sekitar perokok, aku akan bisa menjadi bete. Tetapi, jika berada di dekatnya (yang sedang merokok)… tidak masalah. :D Fine-fine ajahtidak ada perasaan bete malah…)

Perempuan juga akan sangat mudah berkompromi terhadap apa yang sudah dilakukan oleh laki-laki (yang disayangi) terhadap dirinya. Walaupun mungkin bukan kali pertama laki-laki tersebut berbuat salah kepada perempuan itu, tetapi perempuan akan tetap memaafkannya. Walaupun laki-laki itu mengulang kesalahan yang sama.

Bahkan, jika seorang laki-laki menyakiti perempuan itu (dan lagi-lagi bukan untuk kali pertama), maka perempuan juga akan tetap memaafkan laki-laki itu. Pintu maaf bagi laki-laki itu akan selalu terbuka lebar… sangat lebar bahkan…

Semua itu karena perempuan mau berkompromi dengan laki-laki yang mereka sayangi… sangat mereka sayangi mungkin…

Selain itu, perempuan juga akan menjadi seorang yang penyabar jika sudah berhubungan dengan laki-laki yang mereka sayangi.

(lagi-lagi) Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia:

sa·bar a 1 tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati); tabah: ia menerima nasibnya dng –; hidup ini dihadapinya dng –; 2 tenang; tidak tergesa-gesa; tidak terburu nafsu: segala usahanya dijalankannya dng –;

ber·sa·bar v bersikap tenang (tt pikiran, perasaan): hendaknya kita – dl menghadapi cobaan hidup;

me·nya·bar·kan v menenangkan perasaan (pikiran dsb); menenteramkan hati: sebaiknya kita – kedua orang yg sedang bertengkar itu;

ter·sa·bar a paling tenang (tidak mudah putus asa, marah, jengkel, dsb): ia termasuk gadis – di antara teman-temannya sekelas;

mem·per·sa·bar v menjadikan lebih sabar (tabah, tenang);

pe·nya·bar n orang yg bersikap tenang (tidak terburu nafsu dan tidak lekas marah): seorang – biasanya tidak cepat marah krn persoalan kecil;

ke·sa·bar·an n ketenangan hati dl menghadapi cobaan; sifat tenang (sabar): ia pun akan kehilangan -nya apabila diperlakukan tidak adil dan melampaui batas

*****

Dalam menghadapi laki-laki yang disayanginya, perempuan akan menjadi orang yang lebih sabar, sangat sabar bahkan…

Dia (baca: perempuan – Ye) akan bersabarmenyabarkan diri… mempersabar diri… dan pada akhirnya, seorang perempuan bisa menjadi orang tersabar.

Kesabaran seorang perempuan terbukti (terutama) jika berhubungan dengan laki-laki yang disayanginya.

Well… itu menurut pendapatku siy.

Nah… perempuan, sudahkah kalian berkompromi dan bersabar dengan laki-laki (yang kalian sayangi)?

Diterbitkan di:  on Agustus 6, 2009 at 5:28 pm Komentar (2)
Tags: ,