RSS

[Curhatku] AKU, KAU dan DIA

28 Apr

 AKU, KAU dan DIA

 

*************************

 

Malam itu, KAU datang menemuiku untuk mengatakan sesuatu. Sesuatu yang selama ini sudah kutunggu-tunggu… Sesuatu yang sudah lama ingin kudengar darimu.

Akhirnya, KAU mengatakan itu juga. Suatu kepastian atau mungkin jawaban dari pertanyaanku selama ini.

Tapi entah mengapa, AKU merasa tidak senang dengan jawaban yang KAU berikan itu. Bukan… Bukannya AKU marah, tapi, mengapa justru jawaban seperti itu yang KAU berikan padaku. Mengapa??

Masih teringat jelas dalam memoriku, waktu-waktu yang kita lalui bersama, walaupun tanpa kejelasan seperti yang AKU harapkan. Tapi, AKU sangat menikmatinya… Jujur. Bahkan, terkadang aku mengesampingkan hal-hal yang selalu ada di dalam pikiranku…

 

Apa AKU bagimu?”

Siapa AKU bagimu?”

dan…

Apa yang KAU rasakan terhadap AKU?”

 

Seringkali AKU mengabaikan pertanyaan-pertanyaan itu, demi menikmati waktu yang KAU tawarkan dan berikan padaku. Demi menikmati perhatian-perhatian yang KAU berikan padaku.

 

*****

 

Malam sebelumnya, KAU benar-benar memperlakukanku dengan sangat manis, sangat baik. Saat itu, KAU sangat hangat. Perhatian yang KAU berikan padaku juga (sedikit) berbeda dari biasanya… And I really really really like it. Seharian itu, AKU merasa…

 

Oke lah… Tidak apa-apa jika memang harus begini jalannya. AKU oke-oke saja…”

 

*****

 

Tapi, ternyata… keesokan harinya… Bagaikan disambar petir begitu aku mendengar apa yang KAU katakan. Kepastian yang AKU tunggu, akhirnya datang juga.

 

Tapi, tidak seperti yang AKU harapkan. KAU mengatakan bahwa, hubungan antara AKU dan KAU tidak bisa dilanjutkan lebih dari ini, karena ada sebab lain. Dan sebab itu adalah DIA. Ada suatu hal yang mengikat antara KAU dan DIA, yang KAU bilang itu sebagai “janji”. Sebuah “janji” yang sampai saat ini belum bisa AKU mengerti.

 

Waktu itu, KAU sendiri mengatakan bahwa hatimu itu untuk AKU. Tapi, KAU tidak bisa memilihku karena “janji” itu, “janji” yang KAU berikan pada DIA. Dan DIA selalu mengingatkanmu akan “janji”-mu itu.

 

Entah mengapa, AKU merasa tidak rela… tidak rela jika KAU memilih DIA. Karena, KAU sendiri mengatakan bahwa KAU suka AKU, dan KAU sudah tidak ada rasa pada DIA.

 

Bagaimana mungkin KAU bisa menepati ‘janji’-mu itu?”, tanyaku padamu.

 

Jujur saja, keegoisanku langsung muncul begitu KAU mengatakan alasannya. AKU bertanya padamu,

 

Apa benar-benar sudah tidak mungkin bagi AKU dan KAU bersama?”

 

Kemungkinan itu selalu ada… Tapi sepertinya kecil”, jawabmu

 

Oke… aku ambil kemungkinan kecil itu”, sahutku tegas. Tapi, KAU menjawab,

 

Jangan, aku tidak ingin kau terluka lebih dalam lagi. Aku tidak ingin menyakitimu lebih dari ini.”

 

Apapun yang terjadi, seberapa pun besarnya rasa sukaku padamu, tetap akan dikalahkan oleh ‘janji’ itu…”

 

Tuhan… pada saat AKU mengatakan bahwa AKU berani mengambil kemungkinan kecil itu, AKU berharap KAU juga berani mengambilnya. Tapi ternyata, KAU tidak…

Sedikit kecewa memang, tapi apa mau dikata lagi. Sepertinya KAU tidak mau berjuang untuk AKU. KAU tidak memperjuangkan AKU, agar AKU dan KAU bisa bersama.

KAU hanya meminta maaf jika ternyata keputusan itu memberi kesan KAU mempermainkan AKU. Tidak… AKU tidak bisa menerima maaf darimu. Bukan karena AKU tidak mau memaafkanmu, tapi lebih pada AKU belum bisa menyerah secepat itu.

 

AKU kalah sebelum bertanding…

 

AKU kalah hanya oleh sebuah “janji” yang aneh menurutku… Mungkin itu hanya keegoisanku saja, tapi, AKU merasa bahwa AKU tidak bisa menyerah hanya sampai di sini. Itulah yang kukatakan padamu. KAU hanya menyarankan jangan, tidak sebaiknya AKU mengambil keputusan itu, karena KAU tidak ingin AKU menjadi lebih sakit lagi nantinya.

 

Tapi, apakah salah jika AKU masih memiliki harapan itu? Apakah salah jika AKU masih menyimpan harapan itu? Harapan bahwa suatu saat nanti kita, KAU dan AKU, bisa bersama… tanpa ada bayang-bayang DIA di dirimu dan tanpa adanya “janji” itu…

 

*****

 

Entah sampai kapan AKU bisa mempertahankan keegoisanku ini… Atau, entah sampai kapan AKU akan bertahan dengan perasaan ini. AKU tidak tahu, AKU belum tahu jawabnya…

 

KAU… yang sampai saat ini masih ada di dalam hatiku dan telah mendapatkan tempat khusus di hatiku…

 

Apakah masih ada AKU dalam hatimu…?

 
2 Comments

Posted by on April 28, 2008 in Curhatku

 

Tags: , ,

2 responses to “[Curhatku] AKU, KAU dan DIA

  1. nick

    April 29, 2008 at 9:28 am

    tinggalkan KAU aja, cari yg baru😀 masih banyak KAU yang lain, yang terbebas dari ‘janji’.
    janjikuuuuu……… *nyanyi ala GIGI*

     
  2. Ubay

    October 6, 2008 at 11:57 am

    sangat mengharukan.. yang sabar nak ya.. pancen ngene lelakone wong urip..

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: