RSS

[Ceritaku] Perjuangan Cinta…

23 Feb

Pagi ini, Annisa bangun karena dering ponselnya. Buru-buru dia lihat ponselnya untuk mengetahui siapa yang menelepon. Ternyata itu adalah Furqon, temannya.

Nis… aku di depan rumahmu. Bisa kamu keluar sebentar?“, tanya Furqon.

Hah….. Apa? Kamu di luar rumahku? Ngapain?“, tanya Annisa, kaget.

Sudahlah… Yang penting kamu keluar dulu sekarang…

Tergesa-gesa Annisa keluar dari kamarnya menuju ke teras rumahnya. Ketika dia melewati ruang tamu rumahnya, tak sengaja dia melihat jam dinding,

What??? Jam 4 pagi?

Dicobanya mengintip dari balik tirai jendela ruang tamunya.

Beneran ada di depan nich orang…”, batin Annisa.

Dan ternyata, di luar pun gerimis sedang mengguyur kotanya.

***

Nis… Aku mau mengulangi lagi pertanyaanku semalam… Maukah kamu jadi kekasihku?“, tanya Furqon.

Annisa terdiam beberapa saat. Kemudian, sambil mengambil nafas panjang, dia berkata,

Hhhh… Ehm… Fur… Semalam aku tidak memberikan jawaban padamu… Tapi, hari ini… pagi ini… aku jawab YA. Ya, aku mau jadi kekasihmu…

Dan Furqon pun tersenyum mendengar jawaban Annisa.

Alhamdulillah… Senangnya mendengar jawabanmu Nis… berarti usahaku dari semalam tidak sia-sia.…

Maksudmu Fur?“, tanya Annisa sambil mengerutkan dahinya tanda tak mengerti.

Yah… dari semalam aku menunggu di depan rumahmu. Lebih tepatnya sich, di depan pagar rumahmu“, jawab Furqon.

Annisa kaget, tetapi dia hanya bisa terdiam.

***

Iya mbak… Gitu ceritanya…“, kata Annisa kepada Hana, sahabatnya. Annisa menceritakan kronologi Furqon menyatakan cintanya.

Terus Nis… kamu suka juga nggak sama Furqon?“, tanya Hana balik.

Nggak sich mbak… Aku terima cintanya karena aku kasihan mbak. Lagipula, Furqon itu lho usianya lebih muda 5 tahun daripada aku mbak…

Nisa sayang… Tidak baik jika kamu menerima cinta seseorang itu hanya karena kasihan. Kasihan di kalian berdua. Dan lagi, sebenarnya usia itu tidak menjadi masalah lho… Buktinya aku dan suamiku, lebih tua aku setahun khan? And… as you can see now… We’re fine…“, kata Hana.

Annisa hanya bisa mengangguk dan tersenyum simpul.

Yah… aku coba jalani saja dulu mbak… dilihat saja ntar…

***

Sebulan kemudian…

Lho… jadi kamu sudah memutuskan Furqon Nis?“, tanya Hana dengan nada terkejut karena pengakuan Annisa.

Iya mbak… aku nggak mau main-mainin anak orang mbak… Kasihan juga dia…

Annisa pun menceritakan kepada Hana alasan mengapa dia memutuskan Furqon. Annisa jujur kepada Furqon mengenai perasaannya. Ternyata, Annisa masih memiliki perasaan dan harapan (walaupun sedikit) kepada seorang pria yang pernah (sangat) dekat dengannya. Hafiz, seorang General Manager dari sebuah perusahaan IT yang bermasa depan cerah. Tetapi, ternyata Hafiz sendiri belum mengharapkan hubungan yang (lebih) serius dengan Annisa.

***

— bersambung —

 
Leave a comment

Posted by on February 23, 2011 in Ceritaku

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: