RSS

[Ceritaku] Happy Family

29 Mar

Tuk… tuk… tuk…

Bunyi sepatu yang diketuk-ketukkan berkali-kali.

Ya… itu suara sepatu sepasang kaki mungil yang sedang diketuk-ketukkan ke bangku yang didudukinya. Sepertinya si pemilik sepasang kaki mungil itu sedang gelisah.

Tengok ke arah pintu di sebelah kirinya. Menundukkan kepala. Tengok lagi. Nunduk lagi.

Lelaki dewasa yang di sebelahnya hanya bisa tersenyum melihat tingkah polah si pemilik sepasang kaki mungil itu, sambil sesekali mengusap-usap kepalanya.

Tak berapa lama, berlarilah si pemilik sepasang kaki mungil itu mendekati pintu keluar itu. Lalu dia berbalik lagi ke tempatnya semula.

Huuuuhhh………

Cemberut. Dimonyongkan bibirnya.

Entah, mungkin dia semakin gelisah. Mungkin pula dia kesal.

Lelaki dewasa di sebelahnya hanya mampu tersenyum lagi. Berkali-kali diusapnya kepala si pemilik sepasang kaki mungil itu.

Sabar… Sebentar lagi juga datang…”, kata lelaki dewasa itu.

Pada akhirnya, tak pernah lepas pandangannya dari arah pintu keluar itu. Seolah-olah harap-harap cemas.

Sreeeekkk…

Pintu keluar itu pun terbuka.

Tiba-tiba wajah cemberut si pemilik kaki mungil itu pun berubah menjadi wajah yang riang. Bibirnya yang dimonyongkan itu tadi berubah menjadi sebuah senyum lebar bahagia.

Sesosok yang dinantinya akhirnya tiba. Keluar dari pintu keluar bandara.

Bundaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….”, teriaknya sambil berlari menyongsong sesosok wanita berkerudung anggun yang baru saja keluar dari pintu itu.

Dipeluknya sesosok wanita berkerudung itu, yang tak lain adalah Bundanya yang dinanti sedari tadi.

Digendong dan dipeluk eratlah balasan yang diberikan oleh Bundanya kepada si pemilik sepasang kaki mungil itu. Diciuminya berkali-kali. Diusap-usapnya berkali-kali kepala si mungil itu.

Selamat datang Bunda…”, kata lelaki dewasa itu sambil mengusap kepala wanita berkerudung itu, ketika wanita berkerudung yang dipanggil Bunda itu mencium tangan lelaki dewasa itu.

Iya Ayah. Bunda kangen sekali sama kalian berdua. Ayah yang ganteng… dan pastinya… si pinter Furqon ini…”, jawab Bunda itu sambil mencubit gemas hidung si mungil, yang ternyata bernama Furqon itu.

Iya Bundaaaaa…. Fukon kangeeeeeeeeeeeeeennnn syama Bundaaa…”, celetuk ringan si mungil Furqon yang masih cadel, sambil kembali memeluk erat Bundanya.

Yuk… yuk… Pulang yuk…”, sambung Ayah, sambil menggenggam tangan Bunda.

Yuukss…”, jawab BUnda dan si mungil Furqon bersamaan.

Seulas senyum terkembang dari bibir mereka bertiga. Ayah, Bunda, dan si mungil Furqon.

***

Sebuah gambaran keluarga kecil yang ingin aku wujudkan hanya bersamamu, Cinta.

 
 
 
 
 

Catatan:

–          Cerita ini terinspirasi dari cerita seorang kawan.

 
Leave a comment

Posted by on March 29, 2012 in Ceritaku

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: