RSS

[Ceritaku] Deras… Sederas Hujan di Luar Sana…

26 Jun

Aku tak suka ini. Sangat tidak suka! love_gift

Jangan tanya aku apa aku emosi. Ya!!! Aku emosi melihatmu seperti ini. Aku sedih. Aku geram. Aku marah melihatmu seperti ini.

***

Hari ini, entah sudah kali ke berapa kau meneteskan air matamu itu. Entah sudah hari ke berapa kau seperti ini. Membiarkan air matamu jatuh dan mengalir deras, sederas hujan yang turun di luar sana.

Sungguh aku tak suka dengan pemandangan ini.

Tolong… Hentikan air matamu itu. Aku tak sanggup melihatmu meneteskannya seperti ini…”, teriakkku. Dalam hati.

Tak banyak yang kau lakukan.

Kau hanya menangis. Menyebut nama Tuhan.

Yaa ALLAH… Yaa ALLAH…”, katamu berkali-kali. Air mata itu, tak pernah berhenti mengalir. Dalam setiap shalatmu, sujud panjang malam-malammu, kapan pun… Air mata itu selalu mengalir.

***

Tiba-tiba, badanku terasa ringan. Oh… Ternyata kau membawaku ke dalam pelukanmu. Erat. Erat sekali kau memelukku.

Rasanya aku tidak kuat… Aku benar-benar tidak kuat…”, dan kau pun menangis sesenggukan.

Aku tahu. Aku tahu itu! Kau pasti tidak kuat menghadapi ini. Sendiri pula. Sudah kulihat betapa menderitanya dirimu. Sudah kusaksikan dengan mata kepala pula, betapa hancurnya dirimu.

Kau belum makan sejak kemarin. Bahkan kau tak bisa tidur. Lihat! Lihat matamu. Sembab. Sangat.

Rasanya seperti separuh jiwamu direnggut paksa… Dan separuh jiwamu yang lain dihancurleburkan… Hal ini benar-benar membunuhku…”, lanjutmu dengan terisak dan suara parau.

***

Dan malam ini pun, kau membiarkan air mata itu menemanimu.

Kau yang setiap malam selalu menunggu kedatangannya di rumah masa depan kalian. Kau yang setiap setiap saat rela berkorban dan memperjuangkan cinta kalian.

***

Badanmu gemetar kali ini.

Kenapa kamu gemetaran? Apa yang terjadi padamu? Apakah kau sakit?”, tanyaku yang tak mungkin bisa kau dengar.

Tidak. Kau tidak sakit. Kau hanya merasa tak berdaya dengan kondisi yang ada sekarang ini. Kau yang sangat membutuhkan dan merindukannya, tetapi malah “dipaksa” untuk menyingkir dan menghilang dari kehidupannya, laki-laki yang kau cintai itu.

***

Ah… air mata itu kembali membasahi pipimu.

Cintamu kepadanya ternyata sangatlah besar. Begitu juga rasa takut kehilangannya. Aku tahu itu. Karena kau selalu menunjukkan kesungguhanmu dalam bertahan, berkorban, dan berjuang selama ini demi dia dan kalian.

Ingin aku memelukmu erat dan menenagkanmu. Tapi… Aku? Aku tak bisa berbuat apa-apa… Apalah dayaku? Aku hanya sebuah boneka beruang pemberian dia yang kau cinta dan perjuangkan mati-matian, yang diberikan kepadamu sebagai pengganti dirinya sementara.

 
Leave a comment

Posted by on June 26, 2013 in Ceritaku, Curhatku

 

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: